
Dua Jam Menenun Sebuah Lagu
Malam itu kami sedang mencari cara agar sebuah cerita tetap bergerak: dari ingatan ke papan tulis, dari papan tulis ke bahasa Sasak, dari bahasa ke bunyi, lalu kembali kepada orang-orang yang sejak awal menyimpannya.
[NANTIKAN]

Malam itu kami sedang mencari cara agar sebuah cerita tetap bergerak: dari ingatan ke papan tulis, dari papan tulis ke bahasa Sasak, dari bahasa ke bunyi, lalu kembali kepada orang-orang yang sejak awal menyimpannya.

Kita tidak kekurangan anak muda yang bisa disuruh mencintai kampungnya. Kita kekurangan ruang bagi anak muda untuk berkata, “Saya tinggal di sini, tetapi ternyata saya belum benar-benar mengenal tempat ini.”
Mataram, NTB — Proses penciptaan Gula Gending 2.0 tidak berhenti setelah karya dipentaskan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB pada 12 Juni 2026. Pada

Mungkin masalah terbesar sebenarnya bukan Mulud Adat Bayan. Mungkin masalahnya adalah kita. Kita yang datang.

Yang jauh lebih panjang adalah perjalanan setelahnya: memastikan bahwa pengetahuan yang sudah diselamatkan itu tidak berhenti di lemari arsip atau sertifikat penetapan, melainkan terus berjalan kembali ke kampung, kembali ke mata air, kembali ke tangan orang-orang yang mewarisinya.

Masa depan sebuah tradisi ditentukan oleh ada atau tidaknya orang-orang yang bersedia menjadi jembatan. Yang mau berjalan bolak-balik antara ingatan dan masa depan. Yang mendengarkan yang lama tanpa memusuhi yang baru. Yang memahami yang baru tanpa melupakan yang lama.

Ketanpaintian atau ketiadaan inti adalah kritik terhadap kebiasaan kita mencari pusat baru setiap kali berhasil mengkritik pusat lama.

Kita tidak perlu menunggu izin dari mana pun untuk mulai memperlakukan tempat kita sendiri sebagai pusat.